PSIKOLOGI MANAJEMEN
SOFTSKILL

Disusun
Oleh :
Muthiah Abdi 16513226
Yollanda Frishlla 19513494
3 PA 15
Universitas Gunadarma
Bekasi
A.
SIKAP
KERJA
Sikap tubuh dalam bekerja atau sikap kerja adalah suatu gambaran tentang posisi badan, kepala
dan anggota tubuh (tangan dan kaki) baik dalam hubungan antar bagian-bagian
tubuh tersebut maupun letak pusat gravitasinya. Faktor-faktor yang paling
berpengaruh meliputi sudut persendian, inklinasi vertikal badan, kepala, tangan
dan kaki serta derajat penambahan atau pengurangan bentuk kurva tulang
belakang. Faktor-faktor tersebut akan menentukan efisien atau tidaknya sikap
tubuh dalam bekerja. Sikap tubuh bisa dikatakan efisien adalah jika :
a. menempatkan tekanan
yang seimbang pada bagian-bagian tubuh yang berbeda.
b. membutuhkan
sedikit usaha otot untuk bertahan, atau
c. terasa
nyaman bagi masing-masing orang.
Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan berkaitan dengan sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan, yaitu :
a. Semua
pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau sikap berdiri secara
bergantian.
b. Semua sikap
tubuh yang tidak alami harus dihindarkan. Seandainya hal ini tidak
memungkinkan, hendaknya diusahakan agar beban statis diperkecil.
c. Tempat duduk
harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak membebani melainkan dapat
memberikan relaksasi pada otot – otot yang sedang tidak dipakai untuk bekerja
dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh (paha). Hal ini dimaksudkan
untuk mencegah terjadinya gangguan sirkulasi darah dan juga untuk mencegah
keluhan kesemutan yang dapat mengganggu aktivitas.
1. DETERMINAN
SIKAP KERJA
Sikap
kerja dapat dijadikan indikator apakah suatu pekerjaan berjalan lancar atau
tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik, pekerjaan akan berjalan
lancar. Jika tidak berarti akan mengalami kesulitan. Tetapi, bukan berarti
adanya kesulitan karena tidak dipatuhinya sikap kerja, melainkan ada masalah
lain lagi dalam hubungan antara karyawan yang akibatnya sikap kerjanya
diabaikan.
a.
Menurut para tokoh :
1)
Gibson, menjelaskan sikap
sebagai perasaan positif atau negatif atau keadaan mental yang selalu
disiapkan, dipelajari dan diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh
khusus pada respon seseorang terhadap orang, obyek ataupun keadaan. Sikap lebih
merupakan determinan perilaku sebab, sikap berkaitan dengan persepsi,
kepribadian dan motivasi.
2)
Sada, adalah tindakan yang
akan diambil karyawan dan segala sesuatu yang harus dilakukan karyawan tersebut
yang hasilnya sebanding dengan usaha yang dilakukan.
b.
Sikap yang positif
1)
Kemauan untuk bekerja
sama. Bekerja sama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan
perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-orang
secara individual.
Rasa memiliki. Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tjuan perusahaan.
Rasa memiliki. Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tjuan perusahaan.
2)
Hubungan antar pribadi.
Karyawan yang mempunyai loyalitas karyawan tinggi mereka akan mempunyai sikap
fleksibel kea rah tete hubungan antara pribadi. Hubungan antara pribadi ini
meliputi : hubungan social diantara karyawan. Hubungan yang harmonis antara
atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman sekerja.
3)
Suka terhadap
pekerjaan. Perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap
hari dating untu bekerja sama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukan
pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati sebagai indikatornya bisa
dilihat dari : kesanggupan karyawan dalam bekerja, karyawan tidak kpernah
menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.
c. Faktor-faktor
Sikap Kerja
Menurut Blum and Naylor terdapat beberapa factor yang mempengaruhi sikap kerja, diantaranya:
Menurut Blum and Naylor terdapat beberapa factor yang mempengaruhi sikap kerja, diantaranya:
1) Kondisi
Kerja → Situasi kerja yang meliputi lingkungan fisik ataupun lingkungan social
yang menjamin akan mempengaruhi kenyamanan dalam bekerja. Karena dengan adanya
rasa nyaman akan mempengaruhi semangat dan kualitas karyawan.
2) Pengawasan
Atasan → Seorang pimpinan yang melakukan pengawasan terhadap karyawan dengan
baik dan penuh perhatian pada umumnya berpengaruh terhadap sikap dan semangat
kerja karyawan.
3) Kerja
sama dari teman sekerja → Adanya teman sekerja yang dapat berkerjasama akan
sangat mendukung kualitas dan prestasi dalam menyelesaikan pekerjaan.
4) Keamanan
→ Adanya rasa aman yang tercipta serta lingkungan yang terjaga akan menjamin
dan menambah ketenangan dalam pekerjaan.
5) Kesempatan
untuk maju → Adanya jaminan masa depan yang lebih baik dalam hal karier baik
promosi jabatan dan jaminan hari tua.
6) Fasilitas
kerja → Tersedianya fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan karyawan dalam
pekerjaannya.
7) Upah
atau Gaji → Rasa senang terhadap imbalan yang diberikan perusahaan baik yang
berupa gaji pokok, tunjangan dan sebagainya yang dapat mempengaruhi sikap
karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya.
2. PENGUKURAN
SIKAP KERJA
Seperti
yang sudah diuraikan sebelumnya, Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor
yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Ketika seorang
merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan berupaya semaksimal mungkin
dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas
pekerjaannya. Dengan demikian produktivitas dan hasil kerja karyawan akan meningkat
secara optimal.
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan pada dasarnya secara praktis
dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri dan
dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja di tempat pekerjaannya, Sebagai
contoh, karyawan yang sudah lama bekerja memiliki kecenderungan lebih puas
dibandingkan dengan karyawan yang belum lama bekerja. Faktor eksentrinsik
menyangkut hal-hal yang berasal dari luar diri karyawan, antara lain kondisi
fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan lain, sistem penggajian
dan sebagainya.
Secara teoritis, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja sangat banyak jumlahnya, seperti gayakepemimpinan, produktivitas kerja, perilaku, locus of control , pemenuhan harapan penggajian dan efektivitas kerja.
Secara teoritis, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja sangat banyak jumlahnya, seperti gayakepemimpinan, produktivitas kerja, perilaku, locus of control , pemenuhan harapan penggajian dan efektivitas kerja.
3. MACAM
– MACAM SIKAP KERJA
a.
Sikap Kerja Duduk.
Sikap kerja duduk merupakan sikap
kerja yang kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama
bekerja. Duduk memerlukan lebih sedikit energi daripada berdiri karena hal itu
dapat mengurangi banyaknya beban otot statis pada kaki. Kegiatan bekerja sambil
duduk harus dilakukan secara ergonomi sehingga dapat memberikan kenyamanan dalam
bekerja.
Sikap duduk yang keliru merupakan
penyebab adanya masalah – masalah punggung. Hal ini dapat terjadi karena
tekanan pada bagian tulang belakang akan meningkat pada saat duduk dibandingkan
dengan saat berdiri ataupun berbaring. Jika diasumsikan tekanan tersebut
sekitar 100% ; maka cara duduk yang tegang atau kaku (erect posture) dapat
menyebabkan tekanan tersebut mencapai 140% dan cara duduk yang dilakukan dengan
membungkuk ke depan menyebabkan tekanan tersebut sampai 190%.
Sikap duduk paling baik yang tidak
berpengaruh buruk terhadap sikap badan dan tulang belakang adalah sikap duduk
dengan sedikit lardosa pada pinggang dan sedikit mungkin kifosa pada punggung
(Suma’mur, 1989). Sikap duduk yang benar yaitu sebaiknya duduk dengan punggung
lurus dan bahu berada dibelakang serta bokong menyentuh belakang kursi. Selain
itu, duduklah dengan lutut tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul
(gunakan penyangga kaki) dan sebaiknya kedua tungkai tidak saling menyilang.
Jaga agar kedua kaki tidak menggantung dan hindari duduk dengan posisi yang
sama lebih dari 20-30 menit. Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada
kursi, jaga bahu tetap rileks.
Keuntungan bekerja sambil duduk
adalah sebagai berikut :
1)
Menghilangkan tumpuan berat badan
pada kaki.
2)
Memungkinkan tubuh menghindari sikap
yang tidak alamiah.
3)
Kurangnya penggunaan energi sehingga
bisa mengurangi atau memperlambat terjadinya kelelahan.
4)
Kurangnya tingkat keperluan
sirkulasi darah.
5)
Memberikan kestabilan lebih besar
pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketepatan dan ketelitian.
6)
Memungkinkan pengoperasian alat
kendali kaki dengan lebih mudah, tepat dan aman dalam posisi tubuh yang tetap
baik.
Namun,
kegiatan bekerja sambil duduk juga dapat menimbulkan kerugian/ masalah bila
dilakukan secara tidak ergonomis. Kerugian tersebut antara lain:
1)
Melembeknya otot – otot perut.
2)
Melengkungnya punggung.
3)
Tidak baik bagi organ dalam tubuh,
khususnya pada organ pada sistem pencernaan jika posisi dilakukan secara
membungkuk.
b.
Sikap Kerja Berdiri.
Selain sikap kerja duduk, sikap
kerja berdiri juga banyak ditemukan di perusahaan. Sikap kerja berdiri
merupakan sikap kerja yang posisi tulang belakang vertikal dan berat badan
tertumpu secara seimbang pada dua kaki. Bekerja dengan posisi berdiri terus menerus
sangat mungkin akan terjadi penumpukan darah dan berbagai cairan tubuh pada
kaki dan hal ini akan bertambah bila berbagai bentuk dan ukuran sepatu yang
tidak sesuai. Sikap kerja berdiri dapat menimbulkan keluhan subjektif dan juga
kelelahan bila sikap kerja ini tidak dilakukan bergantian dengan sikap kerja
duduk.
Keuntungan
dan kerugian sikap kerja berdiri :
1)
Keuntungan: Otot perut tidak
kendor, sehingga vertebra (ruas tulang belakang) tidak rusak bila mengalami pembebanan.
2)
Kerugian: Otot kaki cepat lelah.
c.
Posisi Kerja Duduk – Berdiri
Posisi kerja
duduk-berdiri yaitu posisi atau sikap kerja yang dapat dilakukan dengan berdiri
atapun duduk. Posisi Duduk - Berdiri mempunyai keuntungan secara Biomekanis
dimana tekanan pada tulang belakang dan pinggang 30% lebih rendah dibandingkan
dengan posisi duduk maupun berdiri terus menerus.
Sikap kerja lainnya antara lain :
1) Mengangkat
beban
Bermacam cara dalam mengangkat beban
yakni dengan kepala, bahu, tangan, punggung ,
dll. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung,
jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kegiatan-kegiatan mengangkat dan mengangkut adalah sebagai berikkut :
a) Beban yang
diperkenakan, jarak angkut dan intensitas pembebanan.
b) Kondisi
lingkungan kerja yaitu keadaan medan yang licin, kasar, naik turun.
c) Keterampilan
bekerja
d) Peralatan
kerja beserta keamanannya
Cara-cara
mengangkut dan mengangkat yang baik harus memenuhi 2 prinsip kinetis yaitu :
a)
Beban diusahakan menekan pada otot
tungkai yang keluar dan sebanyak mungkin otot tulang belakang yang lebih lemah
dibebaskan dari pembebanan.
b)
Momentum gerak badan dimanfaatkan
untuk mengawali gerakan.
Penerapan :
a)
Pegangan harus tepat
b) Lengan harus
berada sedekatnya pada badan dan dalam posisi lurus
c) Punggung
harus diluruskan
d) Dagu ditarik
segera setelah kepala bisa di tegakkan lagi seperti pada permulaan gerakan
e) Posisi kaki
di buat sedemikian rupa sehingga mampu untuk mengimbangi momentum yang terjadi
dalam posisi mengangkat
f) Beban
diusahakan berada sedekat mungkin terhadap garis vertical yang melalui pusat
grafitas tubuh.
2) Menjinjing Beban
Bermacam-macam
cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung dan
sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung,
jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan. Beban yang
diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sebagai berikut:
a) Sikap kerja
almiah
Sikap kerja
almiah aadalh sikap kerja atau posisi kerja yang sesuai dengan bentuk alamiah
kurva tulang belakang. Misalnya pada sikap kerja duduk yang paling baik adalah
sedikit lordose pada pinggang dan sedikit kifose pada punggung. Dengan posisi
seperti ini pengaruh buruk pada tulang belakang terutama pada lumbosacral dapat
dikurangi. Hal ini dapat dicapai dengan penggunaan kursi dengan sandaran
pinggang yang sesuai dengan bentuk anatomis alami tulang belakang.
b) Sikap Kerja Tidak Alamiah
Sikap kerja
tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi bagian tubuh bergerak
menjauhi posisi alamiah misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu
membungkuk, kepala terangkat dan sebagainya. Semakin jauh posisi bagian tubuh
dari pusat gravitasi tubuh, maka akan semakin tinggi pula resiko terjadinya
keluhan otot skeletal. Sikap kerja tidak alamiah ini pada umumnya karena
karakteristik tuntutan tugas, alat kerja dan stasiun kerja tidak sesuai dengan
kemampuan dan keterbatasan pekerja. Posisi tubuh atau sikap kerja yang tidak
alamiah dan cara kerja yang tidak ergonomis dalam waktu lama dan terus menerus
dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada pekerja antara lain:
· Rasa sakit
pada bagian-bagian tertentu sesuai jenis pekerjaan yang dilakukan seperti pada
tangan, kaki, perut, punggung, pinggang dan lain-lain.
· Menurunnya
motivasi dan kenyamanan kerja.
· Gangguan
gerakan pada bagian tubuh tertentu (kesulitan mengerakkan kaki, tangan atau
leher/kepala).
· Dalam waktu
lama bisa terjadi perubahan bentuk tubuh (tulang miring, bongkok).
B.
KEPUASAN KERJA
1.
DEFINISI
KEPUASAN KERJA
Beberapa
definisi kepuasan kerja menurut para tokoh yaitu sebagai berikut. Menurut Steve M. Jex mendefinisikan
kepuasan kerja sebagai “tingkat afeksi positif seorang pekerja terhadap
pekerjaan dan situasi pekerjaan.”
Bagi Jex, kepuasan kerja melulu
berkaitan dengan sikap pekerja atas pekerjaannya. Sikap tersebut berlangsung
dalam aspek kognitif dan perilaku. Aspek kognitif kepuasan kerja adalah
kepercayaan pekerja tentang pekerjaan dan situasi pekerjaan: Bahwa pekerja
yakin bahwa pekerjaannya menarik, merangsang, membosankan atau menuntut. Aspek
perilaku pekerjaan adalah kecenderungan perilaku pekerja atas pekerjaannya yang
ditunjukkan lewat pekerjaan yang dilakukan, terus bertahan di posisinya, atau
bekerja secara teratur dan disiplin.
Kepuasan kerja biasanya didefinisikan sebagai tingkat pengaruh positif karyawan
terhadap pekerjaannya atau situasi pekerjaan. Pengaruh positif pada definisi
ini dapat ditambahkan komponen kognitif dan perilaku, hal ini sesuai dengan
cara psikologis social mendefinisikan sikap. Kepuasan kerja nyatanya adalah
sikap karyawan terhadap pekerjaannya.
Menurut Tiffin kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap
pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan karyawan.
Sedangkan menurut Blum mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap umum
yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor – faktor
pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan sosial individu diluar kerja.
2.
ASPEK-ASPEK KEPUASAN KERJA
Lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu :
a.
Pekerjaan
itu sendiri (Work It self)
Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu
sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta
perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan
tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
b.
Atasan (Supervisior)
Atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya.
Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus
atasannya.
c.
Teman
sekerja (Workers)
Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara
pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang
berbeda jenis pekerjaannya.
d.
Promosi (Promotion)
Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karir selama bekerja.
Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karir selama bekerja.
e.
Gaji/Upah
(Pay)
Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak.
Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak.
3.
DIMENSI KEPUASAN KERJA
Model Theory of Work Adjustment mengukur 20 dimensi yang
menjelaskan 20 kebutuhan elemen atau kondisi penguat spesifik yang penting
dalam menciptakan kepuasan kerja. Dimensi-dimensi tersebut dijelaskan sebagai
berikut:
a.
Ability
Utilization
adalah pemanfaatan kecakapan yang dimiliki oleh karyawan.
b.
Achievement
adalah prestasi yang dicapai selama bekerja.
c.
Activity
adalah segala macam bentuk aktivitas yang dilakukan dalam
bekerja.
d.
Advancement
adalah kemajuan atau perkembangan yang dicapai selama
bekerja.
e.
Authority
adalah wewenang yang dimiliki dalam melakukan pekerjaan.
f.
Company
Policies and Practices
adalah kebijakan yang dilakukan adil bagi karyawan.
g.
Compensation
adalah segala macam bentuk kompensasi yang diberikan kepada
para karyawan.
h.
Co-workers
adalah rekan sekerja yang terlibat langsung dalam pekerjaan.
i.
Creativity
adalah kreatifitas yang dapat dilakukan dalam melakukan
pekerjaan.
j.
Independence
adalah kemandirian yang dimiliki karyawan dalam bekerja.
k.
Moral values
adalah nilai-nilai moral yang dimiliki karyawan dalam
melakukan pekerjaannya seperti rasa bersalah atau terpaksa.
l.
Recognition
adalah pengakuan atas pekerjaan yang dilakukan.
m. Responsibility
adalah tanggung jawab yang diemban dan dimiliki.
n.
Security
adalah rasa aman yang dirasakan karyawan terhadap lingkungan
kerjanya.
o.
Social
Service
adalah perasaan sosial karyawan terhadap lingkungan kerjanya.
p.
Social
Status
adalah derajat sosial dan harga diri yang dirasakan akibat
dari pekerjaan.
q.
Supervision-Human
Relations
adalah dukungan yang diberikan oleh badan usaha terhadap
pekerjanya.
r.
Supervision-Technical
adalah bimbingan dan bantuan teknis yang diberikan atasan
kepada karyawan.
s.
Variety
adalah variasi yang dapat dilakukan karyawan dalam melakukan
pekerjaannya.
t.
Working
Conditions
adalah keadaan tempat kerja dimana karyawan melakukan pekerjaannya.
Hipotesis pokok dart Theory of Work Adjustment adalah bahwa
kepuasan kerja merupakan fungsi dari hubungan antara sistem pendorong dari
lingkungan kerja dengan kebutuhan individu.
4.
FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN KERJA
a.
Faktor Kepuasan Finansial, yaitu
terpenuhinya keinginan karyawan terhadap kebutuhan finansial yang diterimanya
untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan kerja bagi
karyawan dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; system dan besarnya gaji, jaminan
sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi.
b.
Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor
yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik
karyawan. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan
istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan/suhu, penerangan, pertukaran
udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
c.
Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor
yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama karyawan, dengan
atasannya maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya. Hal ini meliputi;
rekan kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan
perintah yang wajar.
d.
Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor
yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan. Hal ini meliputi; minat, ketentraman
dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
5.
HUBUNGAN
PELAKSANAAN KERJA DENGAN KEPUASAN KERJA
Ada sejumlah faktor ekstrinsik yang
terdiri dari salary, keamanan kerja, kondisi kerja, status,
prosedur perusahaan, quality of technical supervision, dan kualitas
hubungan interpersonal diantara rekan sekerja, atasan, dan bawahan. Keberadaan
kondisi tersebut belum tentu dapat memotivasi, tetapi bila tidak ada menyebabkan
ketidakpuasan karyawan karena mereka perlu mempertahankan paling tidak suatu
tingkat tidak ada kepuasan. Kondisi ini disebut sebagai faktor higienes atau
ketidakpuasan. Karyawan cenderung tidak puas apabila faktor-faktor ini dirasa
tidak mencukupi. Ada sejumlah faktor intrinsik yang terdiri dari achievement, recognition,responsibility, advancement,
pekerjaan itu sendiri, dan kemungkinan berkembang, kondisi ini apabila ada akan
memberikan motivasi bagi karyawan. Kondisi ini disebut sebagai faktor pemuas
atau motivator.
SUMBER :
Gibson, J.L.,
Ivancevich, J.M., Donnelly, Jr., J.H., 1990, Organisasi: Perilaku, Struktur,
Proses (Terj.).Jakarta: Erlangga





