PSIKOLOGI MANAJEMEN (SOFTSKILL)
TUGAS PORTOFOLIO 3

Nama Anggota :
Muthiah
Abdi (16513226)
Yollanda
Frishlla (19513494)
3 PA 15
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
A.
MOTIVASI
1.
Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau
menggerakkan. Motivasi (motivation)
dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan
khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan
potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan
mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Motivasi menurut para ahli :
motivasi adalah keinginan yang
terdapat pada seorang individu yang merangsangnya melakukan tindakan (GR.
Terry, yang dikutip oleh Malayu S.P Hasibuan (2005 : 145).
Motivasi adalah pekerjaan yang
dilakukan oleh manajer dalam memberikan inspirasi, semangat, dan dorongan pada
orang lain, dalam hal ini karyawannya untuk mengambil tindakan-tindakan
tertentu ( Liang Gie, yang dikutip oleh Sadali Samsudin ( 2006 :281 ).
Motivasi: keseluruhan proses
pemberian motivasi bekerja kepada bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau
bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan
ekonomis (Siagian, yang dikutip oleh Sedarmayanti ( 2001 : 66 ).
Motivasi meliputi perasaan unik,
pikiran dan pengalaman masa lalu yang merupakan bagian dari hubungan internal
dan eksternal perusahaan sedemikian pentingnya motivasi, banyak ahli filsafat,
sosiolog, psikolog maupun ahli manajemen melakukan penelitian.
Dari pengertian di atas bahwa
motivasi kerja merupakan suatu keahlian dalam mengarahkan atau mengendalikan
dan menggerakan seseorang untuk melakukan tindakan akan perilaku yang
diinginkan berdasarkan sasaran-sasaran yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan
tertentu.
2.
Teori Drive-Reinforcement dan implikasi praktisnya
Teori ini didasarkan atas hubungan
sebab dan akibat dari perilaku dengan pemberian konpensasi. Teori pengukuhan
ini terdiri dari dua jenis, yaitu :
a.
Pengukuhan Positif (Positive Reinforcement), yaitu
bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuh positif diterapkan
secara bersyarat.
b.
Pengukuhan Negatif (Negative Reinforcement), yaitu
bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuhan negatif dihilangkan
secara bersyarat.
Jadi
prinsip pengukuhan selalu berhubungan dengan bertambahnya frekuensi dan
tanggapan, apabila diikuti oleh stimulus yang bersyarat. Demikian juga prinsip
hukuman (Punishment) selalu berhubungan dengan berkurangnya frekuensi
tanggapan, apabila tanggapan (response) itu diikuti oleh rangsangan yang
bersyarat. Contoh : pengukuhan yang relatif malar adalah mendapatkan pujian
setelah seseorang memproduksi tiap-tiap unit atau setiap hari disambut dengan
hangat oleh manajer.
Teori ”drive” bisa diuraikan sebagai
teori-teori dorongan tentang motivasi, perilaku didorong ke arah tujuan oleh
keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang atau binatang. Teori-teori
drive mengatakan hal-hal berikut : ketika suatu keadaan dorongan internal
muncul, individu di dorong untuk mengaturnya dalam perilaku yang akan mengarah
ke tujuan yang mengurangi intensitas keadaan yang mendorong. Pada manusia dapat
mencapai tujuan yang memadai yang mengurangi keadaan dorongan apabila dapat
menyenangkan dan memuaskan. Jadi motivasi dapat dikatakan terdiri dari:
·
Suatu keadaan yang mendorong
·
Perilaku yang mengarah ke tujuan yang diilhami oleh
keadaan terdorong
·
Pencapaian tujuan yang memadai
·
Pengurangan dan kepusaan subjektif dan kelegaan ke
tingkat tujuan yang tercapai.
Teori-teori drive yang lain telah
mengembangkan peran belajar dalamkeaslian keadaan terdorong. Contohnya,
dorongan yang di pelajari (learned drives), seperti mereka sebut, keaslian
dalam latihan seseorang atau binatang atau pengalaman masa lalu dan yang
berbeda dari satu individu ke individu yang lain. Karena penggunaan minuman
keras sebelumnya, ketagihan heroin, contohnya mengembangkan suatu dorongan
untuk mendapatkan hal tersebut, dan karena itu mendorong ke arah itu. Dan dalam
realisasi motif sosial, orang telah belajar dorongan untuk kekuasaan, agresi
atau prestasi. Keadaan terdorong yang dipelajari menjadi ciri abadi dari orang
tertentu dan mendorong orang itu ke arah tujuan yang memadai, orang lain
mungkin belajar motif sosial yang lain dan didorong ke arah tujuan yang
berbeda.
Biasanya di terapkan dalam kehidupan
sehari-hari, misalkan seorang kuli panggul di pasar tradisional, jika ia dapat
mengangkut/mengirim 5 ton buah pada tiap 5 karung maka akan diberikan 2 kg buah
segar oleh pemilik toko buah tersebut, Drive-Reinforcement nya berbentuk reward
berupa materi yang diberikan pemilik toko kepada pekerjanya (kuli panggul)
3.
Teori Harapan dan implikasi praktisnya
Teori pengharapan berargumen bahwa
kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung
pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu
keluaran tertentu , dan pada daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu
tersebut.
Dalam istilah yang lebih praktis,
teori pengharapan, mengatakan seseorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan
tingkat upaya yang tinggi bila ia menyakini upaya akan menghantar ke suatu
penilaian kinerja yang baik (Victor Vroom) Karena ego manusia yang selalu
menginginkan hasil yang baik baik saja, daya penggerak yang memotivasi semangat
kerja seseorang terkandung dari harapan yang akan diperolehnya pada masa depan
(Hasibuan). Apabila harapan dapat menjadi kenyataan, karyawan akan cenderung
meningkatkan gairah kerjanya. Sebaliknya jika harapan tidak tercapai, karyawan
akan menjdadi malas. Teori ini dikemukakan oleh Victor Vroom yang mendasarkan
teorinya pada tiga konsep penting, yaitu:
a.
Harapan (expentancy)
Harapan (expentancy) adalah suatu kesempatan yang diberikan terjadi karena
prilaku. Harapan merupakan propabilitas yang memiliki nilai berkisar nol yang
berati tidak ada kemungkinan hingga satu yang berarti kepastian.
b.
Nilai (Valence)
Nilai (Valence)
adalah akibat dari prilaku tertentu mempunyai nilai atau martabat tertentu
(daya atau nilai motivasi) bagi setiap individu tertentu.
c.
Pertautan (Inatrumentality)
Pertautan (Inatrumentality) adalah persepsi dari individu bahwa hasil tingkat
pertama akan dihubungkan dengn hasil tingkat ke dua.Vroom mengemukakan bahwa
pertautan dapat mempunyai nilai yang berkisar antara –1 yang menunjukan persepsi
bahwa tercapinya tingkat ke dua adalah pasti tanpa hasis tingkat pertama dan
tidak mungkin timbul dengan tercapainya hasil tingkat pertama dan positip satu
+1 yang menunjukan bahwa hasil tingkat pertama perlu dan sudah cukup untuk
menimbulkan hasil tingkat ke dua.
Teori ini termasuk kedalam Teori –
Teori Kesadaran. Teori ini menunjukkan pendekatan kognitif terhadap motivasi
kerja, yang menekankan kepada kemampuan individu dalam pemrosesan informasi.
Kekuatan motivasi yang mendasarinya bukanlah sebuah kebutuhan. Pekerja
diasumsikan melakukan penilaian rasional terhadap situasi kerjanya dengan
mengumpulkan informasi untuk diolah, kemudian membuat keputusanyang optimal.
Kebutuhan hanya digunakan untuk membantu dalam memahami bagaimana pekerja
membuat pilihan berdasarkan pada keyakinan persepsi dan nilai – nilai mereka..
Salah satu teori harapan yang terkait dengan kerja dikemukakan oleh George
Poulus, Mathoney dan Jones (1957) yang mengacu pada Path-Goal Theory. Mereka
mengemukakan bahwa para pekerja akan cenderung menjadi produktif apabila mereka
memandang produktivitas yang tinggi itu sebagai satu cara atau lebih pada
tujuan pribadi.
Sebaliknya, kinerja yang rendah
hanyalah satu jalan menuju tujuan pribadi. Misalnya produktivitas yang tinggi
akan lebihcepat atau mudah untuk terpenuhinya tujuan pribadi daripada pekerja
yang hasilnya terbatas atau lebih rendah. Dengan menggunakan pendekatan”jalan
ke arah tujuan (path-goal)” ini, Vroom (1976) menyarankan suatu teori motivasi
kerjayang dikenal dengan singkatan VIE – Valensi/kemampuan (valence), sarana
(Instrumentality), dan harapan (Expectancy). Pada kesempatan ini yang dibahas
yaitu mengenai Teori Harapan (Expectancy Theory). Nadler & Lawler
menyatakan bahwa terlepas dari teori VIE sebagaimana yang diutarakan para ahli
lainnya, namun ternyata teori VIE menerima terlalu banyak dukungan empiis
karena nilainya yang positif bagi organisasi. Secar khusus, teori ini
memberikan beberapa implikasi yang jelas dan positif bagi manajer.
4.
Teori tujuan dan implikasi praktisnya
Locke mengusulkan model kognitif
yang dinamakan teori tujuan, yang mencoba menjelaskan hubungan hubungan antara
niat/intentions dengan perilaku.Aturan dasarnya ialah penetapan dari
tujuan-tujuan secara sadar. Hasil penelitian Edwin Locke dan rekan-rekan
(1968), menunjukkan efek positif dari teori tujuan pada perilaku kerja. Penetapan
tujuan memiliki empat macam mekanisme:
a.
Tujuan adalah yang mengarahkan perhatian
b.
Tujuan adalah yang mengatur upaya
c.
Tujuan adalah meningkatkan persistensi
d.
Tujuan adalah menunjang strategi untuk dan rencana
kegiatan
5.
Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
Maslow (1970) telah menyusun
kebutuhan-kebutuhan manusia dalam lima tingkat yang akan dicapai sebagai
berikut:
a.
Kebutuhan Fisiologi
Merupakan kebutuhan tingkat pertama
yang paling rendah dan harus dipenuhi dan dipuaskan sebelum mencapai kebutuhan
pada tingkat yang lebih tinggi.Kebutuhan ini terdiri dari
makan,minum,pernapasan dan lain-lain yang bersifat biologis.
b.
Kebutuhan Keamanan
Yang termasuk kebutuhan keamannan
adalah kestabilan, ketergantungan, perlindungan, bebas dari rasa takut dan
ancaman.
c.
Kebutuhan Sosial
Yaitu kebutuhan untuk berhubungan
dengan orang lain, pada saat ini individu akan sangat merasa kesepian dan
terisolasi dari pergaulan.
d.
Kebutuhan Harga Diri
Kebutuhan harga diri dapat dibagi
menjadi dua katagori.Pertama adalah kebutuhan terhadap kekuasaan, berpretasi,
pemenuhan diri, kekuatan, dan kemampuan untuk memberi keyakinan serta kebebasan.Kedua
adalah kebutuhan akan nama baik, status, keberhasilan, pengakuan, perhatian, penghargaan.
e.
Kebutuhan Aktualisasi Diri
Masing-masing orang ingin mewujudkan
diri sebagai seorang yang mempunyai kemampuan yang unik.Kebutuhan ini hanya ada
setelah empat kebutuhan sebelumnya dicapai secara memuaskan.Pada dasarnya
bertujuan untuk membuat seluruh potensi yang ada dalam diri seseorang sebagai
suatu wujud nyata yaitu dalam bentuk usaha aktualisasi diri.
6. Kebutuhan yang Relevan
dengan perilaku dalam organisasi
Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari
perilaku pegawai. Karena tidak mungkin memahami perilaku tanpa mengerti
kebutuhannya. Abraham Maslow (Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa hierarki
kebutuhan manusia adalah sebagai berikut :
a.
Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum,
perlindungan fisik, bernapas, seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan
tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling dasar
b.
Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri dari
ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup.
c.
Kebutuhan untuk rasa memiliki (sosial), yaitu kebutuhan untuk
diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk
mencintai serta dicintai.
d.
Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan
dihargai oleh orang lain.
e.
Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk
menggunakan kemampuan, skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan
mengemukakan ide-ide, gagasan dan kritik terhadap sesuatu.
B. JOB ENRICHMENT
1.
Pengertian Job Enrichment
Job enrichment merupakan suatu pendekatan untuk merancang kembali pekerjaan guna
meningkatkan motivasi instrinsik dan meningkatkan kepuasaan kerja. Pekerja
diberikan kekuasaan atas pekerjaannya, mereka dapat membuat pekerjaan mereka
menjadi lebih terspesialisir dan sederhana. Dari hal tersebut pekerja dapat
mengembangkan kecakapan yang mereka miliki. Selain
itu, job enrichment mampu membuat pekerja menjadi termotivasi agar berhasil dalam mencapai kepuasaan kerja. Sebab dalam job enrichment
disini pekerja melakukan pekerjaan dengan kemampuan mereka sendiri. Namun,
tidak semua dapat melakukan job enrichment karena untuk dapat melaksanakan job enrichment pekerja diharapkan
memiliki tanggung jawab. Bila mereka tidak
mampu melaksanakan tanggung jawab ini tentu semua pekerjaan tidak dapat
berjalan baik. Misalnya saja dalam tahapan merancang kembali pekerjaan disini dituntut adanya kreativitas dari pekerja.
Agar pekerjaan yang dilakukan dapat
terlihat menjadi lebih besar, bervariasi, dan kecakapan lebih luas. Dari situ
pekerja juga dapat mengoreksi pekerjaannnya sendiri. Karena dalam job
enrichment dituntut kemampuan dari para pekerja sehingga mampu memotivasi
secara instrinsik, maka kemungkinan absensi dan perpindahan kerja akan
berkurang. Adanya motivasi tersebut membuat pekerja ingin melakukan yang
terbaik bagi pekerjaannya. Contoh : Seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu
di suatu universitas ia juga dapat membantu anak-anak dibawah jenjang
pendidikannya untuk mengajar anak –anak tersebut dengan cara membuka tempat les
atau tempat untuk belajar.
2.
Langkah- Langkah Re-Design pekerjaan untuk Job
Enrichment :
a.
Menggabungkan
beberapa pekerjaan menjadi satu.
1)
Menjadi
lebih besar
2)
Lebih
bervariasi
3)
Kecakapan
lebih luas
b.
Memberikan
modul kerja untuk setiap pekerja.
c.
Memberikan
kesempatan pada setiap pekerja untuk dapat bertanggung jawab.
1)
Kesempatan
mengatur prosedur kerja sendiri
d.
Memberikan
kesempatan pekerja menghubungi kliennya sendiri secara langsung.
1)
Orang
– orang yang berhubungan dengan pelaksanaan kerjanya.
e.
Menciptakan
sarana – sarana umpan balik.
1)
Pekerja
dapat memonitor koreksi diri.
3.
Pertimbangan-Pertimbangan dalam Job Enrichment :
a.
Jika
pekerjaan terspesialisir dan sederhana dirancang kembali untuk memotivasi
secara intrinsik pada pekerja, maka kualitas pelaksanaan kerja pekerja akan
meningkat.
b.
Absensi
– absensi dan perpindahan kerja akan berkurang.
c.
Dimensi
inti yang berkaitan dengan motivasi intrinsik & lapangan kerja
( Hackman dan Oldham ), yaitu:
1)
Keragaman ketrampilan (skill variety)
Banyaknya ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan.
Makin banyak ragam ketrampilan yang digunakan, makin kurang membosankan
pekerjaan. Misalnya, seorang salesman diminta untuk memikirkan dan menggunakan
cara menjual yang berbeda, display (etalase) yang berbeda, cara yang lebih baik
untuk melakukan pencatatan penjualan.
2)
Jati diri tugas (task identity)
Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan
dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil kinerja seseorang.
Tugas yang dirasakan sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar dan yang
dirasakan tidak merupakan satu kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak
puas. Misalnya, seorang salesman diminta untuk membuat catatan tentang
penjualan dan konsumen, kemudian mempunyai dan mengatur display sendiri.
3)
Tugas yang penting (task significance)
Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi
kehidupan orang lain, baik orang tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu
perusahaan yang sama maupun orang lain di lingkungan sekitar. Jika tugas
dirasakan penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai
kepuasan kerja. Misalnya, sebuah perusahaan alat-alat rumah tangga ingin
mengeluarkan produk panci baru. Para karyawan diberikan tugas untuk mencari
kriteria seperti apa panci yang sangat dibutuhkan oleh ibu-ibu masa kini.
(tugas tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi karyawan karena hasil
kerjanya nanti secara langsung akan memberi manfaat kepada pelanggan).
d.
Otonomi
Tingkat kebebasan pemegang kerja, yang mempunyai pengertian
ketidaktergantungan dan keleluasaan yang diperlukan untuk menjadwalkan
pekerjaan dan memutuskan prosedur apa yang akan digunakan untuk
menyelesaikannya. Pekerjaan yang memberi kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang
mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja. Misalnya,
seorang manager mempercayai salah satu karyawan untuk memperebutkan tender dari
klien. Karyawan tersebut menggunakan ide dan caranya sendiri untuk menarik
perhatian klien . Karyawan diberi kebebasan untuk mengatur sendiri waktu kerja
dan waktu istirahat.
e.
Umpan balik (feed back)
Memberikan informasi kepada para pekerja tentang hasil pekerjaan
sehingga para pekerja dapat segera memperbaiki kualitas dan kinerja pekerjaan.
Misalnya, dalam menjual produk salesman didorong untuk mencari sendiri
informasi, baik dari atasan maupun dari bagian‑bagian lain, mengenai segala hal
yang berkaitan dengan jabatannya serta meminta pendapat konsumen tentang barang‑barang
yang dijual, pelayanan, dll. Jadi kondisi psikologis kritis karyawan yang muncul karena adanya
dimensi utama dalam tugas akan mempengaruhi hasil kerja karyawan yang telah
termotivasi secara internal. Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam job
enrichment tergantung oleh kekuatan kayawan untuk berkembang dan berpikir
positif.
DAFTAR
PUSTAKA
Sunyoto Munandar, Ashar.(2001).Psikologi Industri dan
Organisasi.Jakarta: Universitas Indonesia.
Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya
Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita.
P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan
Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra.
http://raisamatarinursila.blogspot.co.id/2014/12/psikologi-manajemen-tugas-11-job.html
http://wangmuba.com/2009/02/18/teori-teori-motivasi/
http://wangmuba.com/2009/02/18/teori-harapan-expectancy/






0 komentar:
Posting Komentar